Jatuh Bangun Usaha Brownies Nicky Tirta, Hingga Berkembang Sampai Australia

Memiliki hobi masak dan pernah tinggal bolak-balik Jakarta-Australia, membuat Laurensius Nicky Tirta Djaja alias Nicky Tirta selalu siap terjun langsung ke dapur. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri di kala lapar, suami dari Liza Elly Purnamasari ini juga sering kali memasak khusus untuk keluarga besarnya.

Passion-nya terhadap dunia memasak bahkan telah tumbuh subur sebelum ia terjun ke dunia entertain di Tanah Air, yang ikut membesarkan namanya. Beruntung, selama tinggal di Australia ia bisa mendapatkan banyak inspirasi metode memasak dan beragam resep.

Apalagi negeri kangguru ini cukup terkenal dengan program prime time teve-nya yang berisi banyak konten memasak, termasuk kompetisi masak. Hal ini jugalah yang ikut berperan pada kehidupan Nicky dalam menjalani hobinya.

"Kebetulan keluarga besar saya tinggal di Australia. Jadi sekali saya masak, jumlahnya langsung banyak. Bangga rasanya kalau hasil masakan saya dibilang enak oleh mereka. Keluarga juga sangat terbuka kalau masakan saya kurang ini dan itu, jadi bisa langsung dikoreksi. Sejak itulah saya mulai menemukan passion
di dapur, justru sebelum saya masuk ke dunia entertainment," papar Nicky yang juga pernah mengikuti kursus memasak.

Seiring waktu, Nicky sempat memutuskan tinggal agak lama di Indonesia dan menjalani profesi sebagai selebriti. Hingga membuatnya berhenti melanjutkan kursus masak yang dijalaninya kala itu. "Namanya dunia entertain, ada pasang surutnya. Ketika tak ada lagi permintaan tampil, saya tentu harus berpikir bagaimana caranya untuk tetap eksis. Di situ lah pendewasaan saya makin dimatangkan," kisahnya.

DARI PUKIS KEKINIAN KE BROWNIS


Dengan tekad kuat, Nicky pun memutuskan untuk memaksimalkan kemampuannya memasak dengan membuka usaha kuliner. Sambil menjalankan syuting, ayah satu anak ini giat mengumpulkan uang untuk dijadikan modal usaha.

Segala jenis peralatan dapur, seperti oven besar, mikser, hingga kulkas ia beli. "Sejak itu, saya semakin menemukan bahwa passion saya yang selama ini selalu saya tunda-tunda harus dihidupkan kembali. Dari pada nanti saya sudah tak terpakai di dunia hiburan, lebih baik saya buka usaha kuliner saja," terangnya lagi.

Hingga akhirnya sejak 3 tahun lalu Nicky memutuskan untuk stop syuting dan berkonsentrasi penuh pada usaha kulinernya. "Setelah benar-benar berhenti menerima tawaran syuting, saya mulai membuka usaha dengan brand Kytir Premium Brownies," tuturnya.

Pengalaman menjalankan bisnis kuliner yang dijalani Nicky ternyata tak semulus yang dibayangkannya. la mengawali usaha benar-benar dari nol, dengan membuka usaha kecil-kecilan berupa gerai kecil di sebuah pom bensin. la memilih memasarkan kue pukis dengan sentuhan modern dan kekinian.

Nicky mengaku, tak ada keuntungan yang ia raih dari usahanya ini. "Bahkan setelah usaha berjalan 6 bulan, saya sama sekali enggak dapat untung, lo," kenang Nicky, saat ditemui di dapur usahanya yang berada di Kemang, Jakarta Selatan.

Tak patah arang, ia mulai berpikir mengganti jenis produk makanan yang dijualnya. Dengan harapan mendapatkan pangsa pasar yang lebih luas, ia mulai berjualan brownis, yang dianggapnya lebih memiliki banyak penggemar.

Namun ia tak ingin sembarang membuat brownis. la memilih memasarkan brownis dengan kualitas premium. Yang dimaksud premium adalah dari penggunaan bahan cokelatnya yang super premium, termasuk pemilihan kacang kenari, ceri, margarin, serta keju yang juga super premium.

BUKADAPUR KHUSUS


Dalam membuat brownisnya, Nicky benar-benar mengolahnya sendiri. Mulai dari membuat adonan hingga memanggangnya. Setelah semakin banyak pesanan, ia dibantu 2 orang karyawan. Di dapur, Nicky juga sangat memerhatikan unsur higienitas, yang menjadi kunci utama dalam proses pembuatan brownis premiumnya yang hasilnya super spesial.

"Dalam menjalankan bisnis kuliner ini, saya tak hanya ingin memberikan kualitas terbaik pada pemilihan bahan dan hasil rasanya saja. Tetapi saya juga berusaha memberikan yang terbaik sejak proses pembuatannya, demi memuaskan pembeli," tegas Nicky.

Semula, lanjutnya, Nicky mengerjakan pembuatan brownis di dapur rumahnya, ketika ia masih melayani pesanan dari kalangan teman-teman dekatnya saja. Oleh karena brownisnya layak direkomendasikan, akhirnýa semakin banyak orang memesan brownis premiumnya.

"Puji Tuhan, ternyata responsnya sangat positif. Seiring waktu, tidak hanya teman-teman saja yang pesan,
tapi semakin banyak orang yang pesan brownis buatan saya. Oleh karena semakin banyak pesanan, saya harus semakin serius memikirkan usaha ini. Salah satunya dengan membuat dapur khusus, yang sekarang berlokasi di Kemang," paparnya lagi.



Kendati sudah semakin serius dalam menjalani usaha brownisnya, Nicky mengaku tidak ingin gegabah dan terburu-buru membuka cabang di tempat lain. la mengaku masih ingin menjajakan brownisnya dari teman ke teman atau bazar ke bazar, dengan alasan ia ingin menyajikan brownis yang super fresh dengan bahan
berkualitas.

"Saya bersyukur, sudah semakin banyak yang kenal brownis saya. Tak sedikit yang minta saya bikin kerjasama dengan aplikasi ojek online supaya lebih mudah mendapatkan brownisnya. Ada juga yang kepo, kapan saya ikut bazar kuliner lagi. Bahkan fans brownis saya sudah sampai Australia, lo," tuturnya bangga.

Bicara soal fans brownisnya di Australia, Nicky berkisah, suatu kali ia bertandang ke Australia dan sempat membuka pre order brownis untuk 50 paks. Tak disangka hanya dalam waktu 4 jam saja, brownisnya langsung ludes terjual. "lni jadi bukti nyata buat saya. Senang sekali rasanya, usaha yang dirintis step by step
dari nol diapresiasi positif oleh orang banyak."

TRIAL & ERROR 30 KALI

Kytir Premium Brownies yang resmi beroperasi sejak Agustus 2016 ini menawarkan 5 varian rasa brownis. Yakni original (dark coklat dan kenari), triple cokelat, dark choco cherry (dengan selai ceri homemade), triple cheese, dan choco cheese. Ukuran brownisnya 30x10 cm, dengan tebal 3 cm. Harga per brownisnya dibanderol Rp 130 ribu untuk semua varian.

Brownies buatan Nicky unik, padat namun lembut di mulut. Seolah perpaduan antara brownis kukus dan panggang. Tekstur kering di bagian luar, namun cita rasa dark chooolate-nya terasa lumer sesampainya di
mulut.

"Saya memang sengaja menciptakan tekstur brownis sendiri. Untuk menciptakan tekstur yang pas dan sempurna seperti ini, saya trial and error sampai 30 kali, lo! Ditambah lagi, saya tidak pernah ragu memberi toping. Super melimpah, deh, pokoknya," ujarnya.

Setelah makin dikenal sebagai pemilik usaha kuliner, Nicky pun dipercaya oleh sebuah produsen bahan baku makanan untuk melakukan food tour ke sejumlah kota di Indonesia. "Kegiatan lain diusahakan tak mengganggu konsentrasi di dapur. Ketika sedang tak ada food tour atau tawaran syuting, sejak pagi buta saya pasti sudah ada di dapur," katanya.

Menurut Nicky, dalam menjalani usaha kuliner harus super sabar. Kesuksesan tak bisa diraih dalam waktu singkat, meski ia menyandang nama cukup populer. Apalagi, saat ini masyarakat Indonesia sudah kian pintar dalam memilih makanan yang dikonsumsinya.  "Tiap orangpunya selera berbeda. Yang pasti, kita sebagai
pengusaha harus punya standar maksimal, terutama soal rasa."

Tak heran bila Nicky berharap, "Masyarakat tak lagi melihat siapa yang menjual brownis ini. Tapi mereka memang benar-benar membeli dan menikmatinya karena rasa dan kualitasnya bisa dipercaya," pungkas Nicky dengan penuh rasa syukur.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel