Berhentilah Membuang-Buang Waktu!

 

Jika saya harus menuliskan kata pembuka untuk tulisan ini, maka saya akan menulis “waktu adalah koentji”. Mengapa? karena dengan waktu, manusia sebagai subjek yang lebih khusus dapat mengubah dalam kondisi apa dunia akan berputar. Contohnya adalah seorang Thomas Alva Edison, dengan waktu yang ia manfaatkan untuk melakukan 1.000 kali percobaan, akhirnya ia dapat menemukan bola lampu dan aliran listrik DC yang membawa peradaban umat manusia ke tingkat selanjutnya.

Berbeda dengan Thomas Alva Edison, Lee Harvey Oswald hanya membutuhkan sepersekian detik untuk mengubah alur masa depan. Dengan sepersekian detiknya ia melepaskan peluru yang berukuran ukuran 6,5 milimeter dari senapannya yang kemudian menembus tubuh dari John F. Kennedy, presiden Amerika Serikat pada saat itu.

Potensi kemampuan manusia pada khususnya untuk memanfaatkan waktu yang hanya diberikan kurang lebih 24 jam per harinya oleh Tuhan memang luar biasa, baik waktu yang lama atau waktu yang singkat keduanya dapat dimanfaatkan untuk mengubah secara signifikan alur hidup satu individu sekaligus mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Inilah yang membuat munculnya istilah “Butterfly Effect” yang bermakna bahwa perbuatan sekecil apapun di satu waktu dapat mempengaruhi apa yang akan terjadi selanjutnya dan pengaruh dari perbuatan sekecil apapun tersebut akan terus terakumulasi menjadi sesuatu yang berdampak besar. Dari pemahaman tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa kita seharusnya memanfaatkan waktu dengan bijak untuk melakukan hal-hal yang positif yang akan berdampak baik kedepannya.

Selain pentingnya mengisi waktu dengan hal-hal yang positif, fakta lain dari waktu yang harus kita sadari adalah bahwa sebenarnya waktu merupakan objek barter yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari namun, karena waktu bersifat abstrak, maka pertukaran waktu perlu disimboliskan dengan mata uang. Misalnya kita sebagai manusia dapat menukar waktu yang kita habiskan dalam bekerja untuk mendapatkan uang yang uang tersebut dapat ditukar dengan waktu seseorang untuk memasak masakan kesukaan kita. Inilah asal dari ungkapan “Time Is Money” atau “Waktu Adalah Uang”.

Sayangnya tidak sedikit manusia yang belum menyadari logika bahwa waktu adalah mata uang yang paling besar nilainya, dan bahkan ada diantara mereka yang tidak sadar bahwa ada mata uang yang bernama waktu. Contoh konkritnya adalah semua orang pasti akan berfikir dua kali untuk menyia-nyiakan uang yang dimiliki, apalagi untuk sekedar memberi kepada orang yang membutuhkan, banyak diantara kita yang enggan namun, jika soal waktu, kita sebagai manusia sangatlah boros dan sering menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak substansial.

Tidak jarang bahkan sebagian dari kita mencuri waktu milik orang lain karena telah menghabiskan waktu kita untuk hal-hal yang tidak substansial. Contohnya adalah ketika ada seorang remaja yang terlambat datang saat diminta untuk memenuhi undangan meeting/rapat pada waktu yang telah ditentukan, sehingga orang yang sudah ada di lokasi menghabiskan waktu untuk menunggunya. Dapat diibaratkan bahwa secara tidak langsung, remaja yang terlambat datang tersebut telah mencuri waktu atau mencuri “uang” dari orang yang sudah menunggunya. Inilah pentingnya menghargai waktu, tidak hanya waktu yang dimiliki, tetapi juga waktu orang lain.

Untuk mahasiswa yang memiliki tanggung jawab termaktub dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, waktu benar-benar adalah satu-satunya koentji untuk mengambil bagian di semua lini Tri Dharma Perguruan Tinggi karena kebanyakan dari mahasiswa memang belum berpenghasilan dan masih disokong oleh orangtua serta negara. Dengan waktu, mahasiswa dapat meningkatkan kualitas diri dan akademik, dengan waktu, mahasiswa dapat membantu memberikan sudut pandang baru bagi berbagai masalah, dan dengan waktu pula, mahasiswa nantinya dapat terjun ke masyarakat untuk mencapai kebermanfaatan.

Sumber: kaskus

Share this:

Jika ada pertanyaan, komentar, kritik dan saran...

error: